Destiny 2 telah mencapai akhir perjalanannya. Patch terakhir telah dirilis, era live service resmi ditutup, dan Bungie menandai momen tersebut dengan perpisahan kecil namun penuh makna: emblem gratis bernama Gloriabundus, yang tersedia bagi setiap pemain yang menukarkannya di Bungie.net menggunakan kode F6K-D44-JH4.
Emblem ini sendiri terlihat sederhana dan elegan. Logo Destiny terpampang dengan latar belakang cakrawala kota dari kejauhan yang bermandikan cahaya hangat. Tanpa animasi yang mencolok, tanpa efek yang berlebihan. Hanya sebuah gambar yang tenang dan bermartabat yang lebih mencerminkan bobot momen ini dibandingkan sesuatu yang lebih heboh.
Apa kata pimpinan komunikasi Bungie mengenai pemeliharaan server
Pimpinan komunikasi Bungie, Dylan Gafner, yang dikenal di komunitas sebagai dmg04, membahas apa yang akan terjadi pada game ini ke depannya. Pesannya jelas: Destiny 2 tidak akan dibiarkan terbengkalai begitu saja. Gafner mengonfirmasi bahwa pemeliharaan server akan terus berlanjut, dan Bungie mungkin akan turun tangan untuk masalah yang paling krusial, khususnya crash pada game. "Mungkin ada saat-saat di mana kami akan melakukan tindakan darurat untuk masalah prioritas tertinggi," tulis Gafner, seraya menambahkan bahwa perbaikan kecil mungkin masih bisa dilakukan jika ada kesempatan.
Itu bukanlah janji untuk pengembangan berkelanjutan. Kuncinya di sini adalah memahami perbedaan antara game yang aktif (live game) dan game yang dipertahankan (preserved game). Destiny 2 kini memasuki status pemeliharaan, di mana server tetap menyala namun tidak ada konten baru yang akan datang.
Gloriabundus hanyalah permulaan
Begini masalahnya: Bungie tidak berhenti pada satu emblem saja. Sehari setelah Gloriabundus dirilis, tim Destiny 2 menindaklanjutinya dengan koleksi emblem gratis tambahan. Beberapa kode dirilis secara beruntun, dan komunitas bergegas untuk mendapatkan semuanya. Hal ini memberikan kesan seperti sebuah studio yang sedang mengosongkan gudang sebelum hengkang, dan memang itulah yang terjadi.
Waktunya sangat krusial. Update terakhir Destiny 2 justru mencatatkan jumlah pemain bersamaan (concurrent player) di Steam yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspansi Edge of Fate tahun lalu, yang menunjukkan betapa komunitas ini masih sangat peduli. Para pemain kembali untuk mengucapkan selamat tinggal, dan Bungie menyambut mereka dengan sesuatu yang bisa dibawa pulang.
Gambaran besar di balik penutupan
Berakhirnya layanan live service Destiny 2 tidak terjadi begitu saja. Hubungan Sony dengan Bungie telah merenggang setidaknya selama beberapa tahun terakhir, dan pada bulan Juni, Bungie melakukan PHK terhadap sebagian besar tim Destiny setelah pengumuman berakhirnya pengembangan. Studio kini fokus pada proyek-proyek baru di bawah naungan Sony, dengan Destiny 2 yang dibiarkan tetap berjalan di latar belakang.
Beberapa pemain sempat berharap Sony mungkin akan mengubah keputusan, terutama mengingat lonjakan jumlah pemain yang terjadi setelah pengumuman penutupan. Harapan itu tampaknya hanya angan-angan belaka saat ini. PHK yang dilakukan cukup luas, dan membangun kembali operasi live service dalam skala tersebut akan membutuhkan komitmen yang saat ini tidak ada.
Apa yang sering dilewatkan oleh sebagian besar pemain dalam situasi seperti ini adalah betapa jarangnya sebuah perpisahan yang layak dilakukan. Banyak game yang offline begitu saja tanpa catatan patch terakhir. Bungie memberikan Destiny 2 perpisahan yang nyata, lengkap dengan hadiah gratis, pesan pribadi dari tim komunitas, dan komitmen untuk tetap menjalankan server. Untuk game yang mendefinisikan satu generasi looter shooter, itu sangat berarti.
Jika Anda masih aktif dan ingin memaksimalkan apa yang tersisa di dalam game, koleksi panduan Destiny 2 memiliki semua yang Anda butuhkan untuk mengejar konten yang tersisa, termasuk cara mendapatkan set armor Bushido dari Zavala sebelum Anda menutup bab perjalanan Guardian Anda untuk selamanya.








