Karier Ben Feder mencakup beberapa nama terbesar dalam dunia gaming modern. Sebagai mantan CEO Take-Two Interactive, ia mengawasi waralaba seperti Grand Theft Auto dan Red Dead Redemption selama era pengembangan blockbuster. Setelah memegang peran kepemimpinan di Tencent dan posisi dewan direksi di Epic Games serta Bad Robot, Feder kini mengalihkan fokusnya ke modal ventura.
Perusahaannya, Tirta Ventures, yang didirikan pada tahun 2022 bersama Justin Yuan, menyasar apa yang digambarkan Feder sebagai "sudut teknologi paling menarik saat ini" — di mana gaming bertemu dengan kecerdasan buatan (AI). Alih-alih hanya mendanai studio, Tirta mendukung para founder yang melihat AI sebagai alat untuk mengubah secara fundamental bagaimana game dibuat dan dimainkan.

Beli game dengan harga lebih hemat.
Dapatkan diskon hingga 80%
Dari menjalankan game menjadi pendukung pembuat game
Feder percaya latar belakang operasionalnya memberikan Tirta keunggulan dalam lanskap investasi yang padat. Banyak perusahaan modal ventura yang berfokus pada gaming dipimpin oleh profesional keuangan, bukan oleh orang-orang yang pernah merilis game atau mengelola tim kreatif.
"Saat saya duduk di dewan direksi, biasanya saya adalah satu-satunya orang yang benar-benar pernah membangun atau menjalankan perusahaan," ujar Feder. "Yang lainnya adalah orang keuangan. Para entrepreneur menyadari hal itu. Mereka mendambakan penilaian operasional."
Pendekatannya menekankan pada mentorship dan pengalaman langsung dibandingkan buku panduan investor tradisional. Alih-alih bertindak seperti publisher dengan tim pendukung internal, Tirta mengidentifikasi dan mendukung para founder yang memperlakukan AI sebagai mitra kreatif, bukan sekadar jalan pintas teknis.
Memahami pergeseran AI dalam gaming
Feder memandang kecerdasan buatan sebagai lompatan besar berikutnya dalam hiburan interaktif, setara dengan peralihan dari grafis 2D ke 3D atau munculnya multiplayer online. Saat ditanya apakah AI merupakan sebuah bubble, ia mengambil sikap yang terukur.
"Bubble berkaitan dengan valuasi, bukan peluang," katanya. "Ya, memang mahal. Namun bagi tipe founder yang kami dukung, ini adalah anugerah. Ratusan miliar dolar dihabiskan oleh para hyperscaler, dan startup bisa menggunakan teknologi tersebut secara gratis."
Ia membandingkan kehadiran AI dengan penemuan fotografi, yang memaksa seniman untuk mendefinisikan ulang karya mereka. Dengan cara yang sama, Feder berpikir AI akan mendorong developer untuk mengajukan pertanyaan kreatif baru dan mengeksplorasi jenis pengalaman bermain yang baru.
Bertaruh pada talenta global
Tirta Ventures mengambil pandangan global terhadap inovasi gaming. Sekitar sepertiga dari investasinya bersifat internasional, dan Feder menyoroti wilayah seperti Turki, Australia, Pakistan, dan Brasil sebagai pusat pengembangan yang ambisius.
"Di AS, kegagalan adalah hal yang bisa diatasi," jelasnya. "Di beberapa negara ini, tidak demikian. Ini adalah kesempatan satu-satunya bagi mereka. Mereka bekerja lebih keras. Studio hebat berikutnya bisa datang dari mana saja, karena talenta kini bersifat global."
Feder juga mencatat bahwa biaya pengembangan yang tinggi dan siklus inovasi yang lebih lambat membuat studio besar di Barat sulit mempertahankan keunggulan kreatif mereka. AI mungkin dapat mengurangi biaya produksi, tetapi ia tidak yakin AI akan sepenuhnya menyelesaikan tantangan pengembangan skala besar.
Studio masa depan
Feder memperkirakan generasi studio berikutnya akan terlihat sangat berbeda dari raksasa saat ini. Alih-alih ratusan karyawan dan siklus pengembangan bertahun-tahun, ia memprediksi tim yang lebih kecil dan lebih cepat yang memadukan seni dengan keahlian teknis.
Ia menunjuk contoh awal game yang bereksperimen dengan dunia berbasis AI — proyek di mana NPC berperilaku dan merespons layaknya pemain sungguhan. "Kami menganggapnya sebagai Turing test untuk video game," ujarnya. "Bisakah Anda membedakan NPC dari manusia? Saat di mana Anda tidak bisa membedakannya sudah di depan mata."
Kemajuan ini dapat mengaburkan batas antara game dan pengalaman virtual, memperkenalkan bentuk hiburan baru yang bersaing langsung untuk mendapatkan perhatian di seluruh ruang digital.
Mendefinisikan ulang "VC operasional"
Perspektif Feder juga menyentuh tema umum di dunia startup — gagasan tentang "VC operasional". Banyak dana ventura dimulai dengan janji untuk terlibat secara mendalam dalam pekerjaan sehari-hari perusahaan portofolio mereka. Namun seiring waktu, saat mereka berskala besar, realitasnya bergeser ke peran yang lebih strategis.
Feder mengakui evolusi ini namun tetap berpendapat bahwa latar belakangnya memberikan keunggulan praktis dalam menasihati para founder kreatif. Tujuannya bukan untuk menjalankan bisnis mereka, melainkan untuk berbagi pelajaran dari pengalamannya sendiri di industri ini dan membantu mereka menghindari kesalahan umum.
Melihat ke depan
Bagi Feder, hubungan antara gaming dan AI mewakili lebih dari sekadar tren — ini adalah pergeseran jangka panjang dalam cara pengalaman interaktif dibangun dan dikonsumsi. Melalui Tirta Ventures, ia bertaruh pada tim yang melihat teknologi sebagai katalis kreatif, bukan sekadar langkah penghematan biaya.
Seiring dengan semakin terintegrasinya alat AI ke dalam alur kerja pengembangan, Feder percaya bahwa jenis studio baru dan jenis game baru akan muncul. Dekade berikutnya, katanya, akan menjadi milik mereka yang memahami bahwa kecerdasan, bukan sekadar skala, akan menentukan masa depan permainan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan (FAQ)
Siapa Ben Feder?
Ben Feder adalah mantan CEO Take-Two Interactive, di mana ia membantu mengawasi waralaba besar seperti Grand Theft Auto dan Red Dead Redemption. Ia juga pernah memegang peran kepemimpinan di Tencent dan menjabat di dewan direksi Epic Games serta Bad Robot.
Apa itu Tirta Ventures?
Tirta Ventures adalah perusahaan modal ventura yang didirikan pada tahun 2022 oleh Ben Feder dan Justin Yuan. Perusahaan ini berfokus pada investasi di perusahaan yang berada di persimpangan antara gaming dan kecerdasan buatan, termasuk startup yang mengembangkan konten, alat, dan infrastruktur.
Mengapa Tirta Ventures berfokus pada AI dalam gaming?
Feder percaya AI akan membentuk kembali cara game dirancang dan dimainkan. Tirta berinvestasi pada tim yang menggunakan AI untuk menciptakan alat yang lebih cerdas, dunia yang lebih dinamis, dan bentuk hiburan interaktif yang baru.
Apakah AI menciptakan bubble di industri gaming?
Feder berpendapat bahwa valuasi AI yang tinggi tidak serta merta menunjukkan adanya bubble. Ia memandang AI sebagai peluang teknologi jangka panjang, di mana startup mendapatkan keuntungan dari investasi korporasi berskala besar dalam infrastruktur AI.
Wilayah mana yang sedang berkembang dalam kancah gaming global?
Feder mengidentifikasi negara-negara seperti Turki, Australia, Pakistan, dan Brasil sebagai pasar berkembang untuk inovasi gaming. Wilayah-wilayah ini menggabungkan talenta teknis yang kuat dengan motivasi tinggi dan biaya produksi yang lebih rendah.
Jenis studio seperti apa yang akan sukses di era AI?
Feder memprediksi bahwa studio masa depan yang paling sukses akan lebih kecil dan lebih gesit, menggunakan AI untuk menciptakan NPC cerdas dan sistem game adaptif yang memperluas batasan gameplay tradisional.








